Film Ozora, "Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel" Sebuah Gugatan Keadilan di Layar Lebar

  • Bayu Dewantara

Film yang disutradarai Anggy dan Bounty Umbara ini bukan hanya rekonstruksi, tetapi cerminan perjuangan seorang ayah melawan ketimpangan hukum dan penyalahgunaan kekuasaan. Kasus penganiayaan brutal terhadap David Ozora telah terukir sebagai salah satu peristiwa kelam yang mengguncang Indonesia. Lebih dari sekadar berita, kisah David menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, kekuasaan, dan budaya kekerasan yang sering dibiarkan. Tragedi nyata ini kini diangkat ke layar lebar dalam film berjudul Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel.

Film ini hadir sebagai upaya berani untuk menempatkan kasus tersebut dalam konteks yang lebih luas: menyoroti ketimpangan hukum di hadapan kekuasaan, perjalanan spiritual dan psikologis keluarga korban, serta kekuatan dari suara dan solidaritas publik.


Reuni Sutradara Bersaudara

Film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel disutradarai oleh duo bersaudara, Anggy Umbara dan Bounty Umbara. Diproduksi oleh Umbara Brothers Film bersama VMS Studio dan beberapa rumah produksi lain, proyek ini menjadi ajang reuni penyutradaraan bagi keduanya setelah sekian lama.

"Ide awal film ini lahir dari Bounty, namun ketika pertama kali merencanakan proyek ini, kami sudah sangat memiliki ceritanya dan sepakat untuk menyutradarainya bersama-sama,” jelas Anggy dan Bounty mengenai kolaborasi mereka.

Dibintangi oleh jajaran aktor ternama, termasuk Chicco Jerikho sebagai Jonathan (ayah David), Muzakki Ramdhan sebagai David Ozora, Erdin Werdrayana, Tika Bravani, Donny Damara, Annisa Kaila, dan Mathias Muchus, film ini dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 4 Desember 2025.

Pergulatan Seorang Ayah Melawan Kekuasaan

Film ini berpusat pada perjuangan Jonathan (Chicco Jerikho), yang menghadapi mimpi terburuknya ketika sang putra, David Ozora, koma akibat penganiayaan brutal oleh anak seorang pejabat tinggi negara. Saat kasus ini menjadi viral dan memicu kemarahan nasional, Jonathan, didukung dua sahabat setianya, Melissa (Tika Bravani) dan Rustam (Rizky Hanggono), harus berjuang menegakkan keadilan di tengah sistem hukum yang terasa timpang. Pelaku penganiayaan, Dennis (Erdin Werdrayana), dikisahkan mendapat keringanan berkat pengaruh dan kekuasaan ayahnya yang mengaku sebagai "Penguasa Jakarta Selatan."

Para pembuat film menegaskan bahwa film ini bukan rekonstruksi kriminal, melainkan sebuah interpretasi yang fokus pada dampak mendalam kekerasan dan bullying terhadap korban dan orang-orang di sekitarnya. Alur cerita akan banyak mengikuti perjalanan emosional dan spiritual Jonathan, seorang ayah yang berjuang untuk bangkit dari jurang keputusasaan saat putranya berjuang hidup di masa koma yang panjang.

Mengangkat Harapan dan Solidaritas Publik

Anggy Umbara, yang juga bertindak sebagai produser, menyoroti aspek psikologis dan spiritual yang ingin diangkat.

“Kisah David ini memang mengguncang Indonesia. Tapi banyak masyarakat yang tidak tahu bagaimana perjalanan psikologis bahkan spiritual seorang ayah yang melihat anaknya menjadi korban bullying dari seorang anak pejabat negara sampai harapan hidupnya hanya 2 persen. Jadi dalam film ini juga akan mengangkat soal harapan dan mukjizat Tuhan,” jelasnya.

Chicco Jerikho mengakui bahwa memerankan karakter Jonathan adalah tantangan besar yang menguras energi. “Perasaan emosional itulah yang membuat saya harus benar-benar mengatur emosi agar tetap berada di frekuensi Jonathan pada kejadian aslinya,” papar Chicco.

Pada akhirnya, Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel tidak hanya berfungsi sebagai pengingat akan tragedi perundungan, tetapi juga menyoroti bagaimana solidaritas masyarakat dapat tumbuh menjadi kekuatan nyata melawan ketidakadilan. Film ini mengajak publik untuk menggunakan berbagai ruang, termasuk ruang digital, untuk menentang penyalahgunaan kekuasaan dan memperjuangkan kebenaran.